Cerpen "Aku Benci Hujan"


Aku Benci Hujan
Oleh : Heni Setyaningrum

Bekerja di jalanan memang rutinitasnya, apapun Jono lakukan demi mengisi perut dan menafkahi adik serta ibunya yang sudah hampir dua minggu ini hanya bisa terbaring di rumah kardus miliknya. Tiga hari lagi menjelang hari ulang tahun adik kesayangannya itu, sudah sejak lama adiknya merengek sebuah tas loak warna merah muda yang dipajang rapi pada etalase sebuah toko dekat persimpangan tempat biasanya Jono memulung. “tak biasanya mendung datang sepagi ini” Jono menggerutu sepanjang perjalanan mencari barang bekas. Entah mengapa Jono selalu membenci turunnya hujan, selain anggapan bahwa hujan hanya berani datang keroyokan, hujan juga membuat Jono tidak bisa memulung seharian. Alhasil hanya Rp, 5000 perak yang dapat ia bawa pulang hari ini. Adiknya merengek kembali saat tau bahwa kakaknya belum juga membawakan tas merah muda impiannya.
Senja disertai gerimis yang masih saja turun sedari tadi itu berganti dengan hawa dingin malam ibu kota yang secara halus mengejek Jono agar tetap bertahan didalam rumah kardus usang itu. Listrik ada di rumah Jono, memang bukan hasil memasang listrik milik PLN dan harus membayarnya setiap bulan, listrik di keluarga ini didapat dari penyaluran listrik dari lampu jalanan yang tentunya illegal. Tak hanya itu biaya yang harus dikeluarkan ternyata lebih mahal daripada listrik secara legal.
Hari ini makan bersama dengan lauk kemarin, seperti biasa seadanya tak ada yang istimewa memang, semangkuk sayur bayam juga ikan teri asin menghiasi meja makan. Sialnya hujan turun bertambah deras, ibunya mulai cemas, karena rumah kardus miliknya terus digempur oleh rintikan air hujan di luar sana.
Pukul 05.00 ibunya merasa badannya merasa baikkan dan memutuskan untuk ikut memulung hari ini, khawatir selalu ada dipikiran jono sepanjang perjalanan memulung Karena ibu nya memaksa ikut memulung meski sebenarnya Jono tahu bahwa ibunya itu belum sembuh total. Mereka berpiah di ujung gang dan seakan sudah tau jatah masing masing akan tempat yang strategis untuk memulung. Kembali Jono melewati toko dimana tas merah muda itu dipajang, bertekad dalam hatinya untuk bekerja keras hari ini agar dapat dengan segera membawa pulang tas itu dengan tambahan tabungan yang diam-diam ia kumpulkan setiap harinya.
Sore tiba tak sia-sia usaha Jono hari ini, uangnya cukup untuk memboyong tas merah muda itu kerumahnya segera, bersama dengan terbelinya tas itu hujan turun lagi tak kalah lebat dengan hujan semalam, Jono berlari keluar toko dengan tas yang sudah dibungkus plastik, teramat bahagia hatinya hingga tak sadar dari arah selatan mobil berkecepatan tinggi menghantam Jono dan membuat ia tak sadarkan diri, seketika Jono tewas sembari memeluk erat tas merh muda milik adiknya. Darah mengalir bersama semakin derasnya hujan saat itu, dari arah sebaliknya ibunya tahu dan langsung menangis walau air mata suci ibunya tersamarkan dengan turunnya hujan. Dan saat ini untuk kali pertama dalam hudup ibunya ia menyatakan bahwa ia juga membenci hujan.

Komentar